Al'quran Sebagai Pembela Di Akhirat

Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"

Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayanh dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"

Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Semua Kesuksesan Ada Padamu

 
Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang
yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya
yang berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis berdagang di kota.
Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon yang besar
itu.

Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan
anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara
yang mengusik ambang sadar si pedagang.

"Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa
dagangan kita ke kota?"

"Sepertinya", lanjut sang bocah, "Aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping
seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir,
aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini."

Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah.

Lalu, ia kembali melanjutkan, "Bilakah aku bisa punya tubuh besar
sepertimu, Ayah?"

Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah
benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya
benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang
yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang
besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.

"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar
tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu
berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga
berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol,
juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah,
sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang
sama."

Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak,
benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan
yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi
sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari
yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh.
Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya
menjadi mahluk yang sabar."

"Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap
menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."

Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri,
meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan
impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur,
melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.

Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih
dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah, menciptakan kita penuh dengan
keistimewaan. Dan karena Allah, memang menyiapkan kita menjadi mahluk
dengan berbagai kelebihan.

Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya
dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan
kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan
yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah
saatnya berhasil?

Kapankah saat itu akan datang?

Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua
kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang
lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal.
Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan
bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?

Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses,
tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan?

Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah",
derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"?

Tidak Teman. Karena Allah Maha Tahu, bahwa setiap hambaNya akan menemukan
jalan keberhasilan, maka Allah akan tak pernah lupa dengan itu semua.

Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah
ada dalam dirimu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Meraih Sukses

"Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain. Sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 77)

"Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari orang mukmin yang lemah." (Al-Hadist)

Kita diciptakan oleh Allah bukan untuk menjadi pecundang, tapi kita telah disiapkan oleh Allah, berpotensi untuk sukses. Tidak hanya pada ukuran dunia tapi juga untuk ukuran akhirat.

Rasulullah tidak hanya di akhirat tapi didunia juga sukses. Beliau tidak mau menjadi beban bagi orang lain. Usia 12 tahun sudah melakukan perjalanan untuk berdagang dan pada usia 25 tahun telah menjadi seorang pemuda yang bermutu akhlaknya dan terpercaya pribadinya.

Rasul merupakan pemuda yang sukses karena, pada saat memberikan mas kawin atau mahar pada Siti Khodijah, Rasul memberikan sebanyak 20 ekor unta muda yang artinya pada saat itu telah menjadi seorang pengusaha kaya raya yang sangat sukses.

Untuk menjadi pribadi yang sukses maka kita harus "tenang" karena keyakinan akan adanya kekuasaan Allah. Lalu, "terencana" dalam melakukan sesuatu, baru "tawakal". Kemudian "terampil" dalam berkerja; "tertib" dalam kehidupan; "tekun" dan "istiqamah" dalam mengatasi kejemuan; "tegar" dan sabar dalam menerima musibah dari berbagai macam kejadian; "tawadhu" atau rendah hati, karena kesombongan merupakan sarana yang paling efektif untuk menjatuhkan martabat kita.

Kesuksesan sejati adalah ketika kita berhasil meyakini semua ini adalah milik Allah, yang membuat kita menjadi tawadhu dan rendah hati, terus-menerus membersihkan hati dan terus meningkatkan kemampuan untuk mempersembahkan yang terbaik, yang terlihat dari kemuliaan akhlak dan sempurnanya amal dengan hati yang ikhlas. Insya Allah kita akan mendapatkan kesuksesan di dunia dan akhirat.

Bundel by  UGLY --- Jan '02

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Kecanduan Motivasi

Ada sepasang kakek nenek yang tinggal berdua di sebuah
rumah, mereka menikmati hari tuanya dengan tentram,
lingkungan mereka sepi tanpa gangguan karena rumah
mereka ada di ujung sebuah jalan yang buntu, tidak ada
kendaraan yang lewat rumah mereka.

Pada suatu hari, sekelompok anak mulai bermain sepak bola
di depan rumah mereka, di atas badan jalan buntu tersebut
Anak anak itu bermain dan berteriak teriak dengan seru,
sangat ribut dan merampas ketentraman yang selama ini
dinikmati sepasang kakek nenek itu.

Besoknya hal itu terulang kembali, demikian juga dengan
lusanya, rupanya anak anak itu kini telah mendapatkan
sebuah 'markas baru' tempat mereka bermain, bercanda,
bersenda gurau, berteriak, bahkan berkelahi.

Tujuh hari lamanya sang kakek nenek terganggu, mereka
berpikir keras mencari upaya agar anak anak itu tidak lagi
bermain di depan rumah mereka.

Pada hari ketujuh, ketika anak anak bermain sepak bola
sambil berteriak teriak dengan gaduh, sang kakek keluar
rumah, lalu ikut berteriak teriak memberikan semangat
kepada anak anak yang sedang bermain itu.

Ketika permainan sepak bola berakhir, sang kakek
menyediakan beberapa botol coca cola untuk anak anak
melepaskan haus.

Tentu saja anak anak kegirangan, mereka kemudian
diberitahu bahwa kakek kesepian dan ingin mengusir
kesepiannya dengan mendengarkan suara gaduh anak anak,
semakin gaduh mereka, semakin senang sang kakek.

Hari hari berikutnya hal yang sama berulang kembali, sang
kakek ikut bercanda, berteriak, bahkan kadang ikut bermain bola
dengan sepasang kakinya yang sudah lemah. kakek selalu menyediakan
coca cola, bahkan kemudian mengeluarkan permen, kue, atau coklat
kalau mereka bisa berteriak dengan keras. semakin gaduh, semakin
banyaklah makanan yang disediakan oleh sang kakek.

Tepat sebulan kemudian, ketika anak anak itu selesai
bermain, mereka tidak lagi disediakan coca cola, apalagi
permen atau coklat. Sang kakek berjanji besok pasti akan
ada coca cola dan coklat, asalkan mereka besok bisa
membuat kegaduhan yang luar biasa.


Besoknya, mereka bermain dengan luar biasa gaduh, tapi
ternyata sang kakek kembali ingkar janji, besok dan
besoknya sang kakek terus mengumbar janji, bahwa akan
ada coca cola dan coklat, bahkan permen, kue, mainan dan
banyak janji lainnya.

Anak anak mencoba bersabar, mereka terus menciptakan
kegaduhan seperti permintaan si kakek, namun sang kakek
terus tidak menepati janjinya.

Akhirnya, hilanglah kesabaran anak anak, mereka kemudian
memindahkan markas mereka ke jalan yang lain,

" Biar si kakek kesepian, biar dia tahu rasa karena
mengingkari janjinya, kita tidak akan lagi memberikan
kegaduhan untuknya, mari kita pindah dan main di tempat lain,
biarkan jalan ini sepi sehingga si kakek kesepian,
biar dia nyaho !! ".

Maka sejak saat itu, sepilah jalan di depan rumah si kakek,
anak anak marah dan tidak mau lagi bermain disitu.

Sejak hari itu, sang kakek nenek kembali bisa menikmati hari
harinya tanpa kegaduhan lagi ….

Konon di markas baru berikutnya, anak anak selalu ribut,
dan para penghuni rumah disana yang jalannya dijadikan markas
selalu memberikan permen dan coklat apabila anak anak bisa
bermain sepak bola dengan tertib, tidak berisik, sebaliknya
permen dan coklat tidak ada apabila mereka ribut sekali.

Konon juga permen dan coklat itu berlangsung bertahun tahun
karena anak anak yang tumbuh besar digantikan anak anak baru
generasi berikutnya yang 'betah' bermain sepak bola dan
berteriak teriak di markas itu, bahkan kemudian anak anak
yang sudah lebih besar ada yang menjadi preman yang
tidak puas dengan permen, tapi rokok.

Syukurlah, sang kakek dan nenek berhasil mengatasi masalahnya
dengan efektif karena metoda yang digunakannya lebih tepat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Kehidupan Menuntut Kesabaran

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.
"Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati."
Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, "Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini."

Abu Hassan bertanya, "Bagaimana hal yang merisaukanmu ?"
Wanita itu menjawab, "Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, "Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?"
Jawab adiknya, "Baiklah kalau begitu ?"
Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pingsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua."

Lalu Abul Hassan bertanya, "Bagaimanakah kesabaranmu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?"
Wanita itu menjawab, "Tiada seorang pun yang dapat membedakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berbeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka."
Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan tauladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
" Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya."

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,:
" Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang."
Dan sabdanya pula, " Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka." (Riwayat oleh Imam Majah)
Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments1

Cinta

Tuhan
Saat aku mencintai seorang teman
Ingatkanlah aku bahwa aka nada sebuah akhir
Sehingga aku tetap bersama yang tak pernah berakhir
Tuhan
Ketika aku merindukan seorang kekasih
Rindukanlah aku kepada yang merindukan cinta sejati-Mu
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi
Tuhan
Jika aku hendak mencintai seseorang
Temukan aku dengan orang yang mencintai-Mu
Agar bertambah kuat cinta ku pada Mu
Tuhan
Ketika aku sedang jatuh cinta
Jagalah cinta itu
Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu
Tuhan
Ketika aku berucap aku cinta padamu
Biarlah aku katakan kepada yang hatiya tertaut pada Mu
Agar aku tidak jatuh dalam cinta yang bukan karena Mu

Sebagaimana orang bijak berucap
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa
Dicintai seseorang adalah sesuatu
Dicintai oleh orang yang engkau cintai sangat berarti
Tapi dicintai oleh sang Pencipta adalah segalanya

  

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Ayahku Bukanlah Ibrahim



Pada suatu peringatan, ditunjuklah penceramah yang telah dipersiapkan. Penceramah itu menyusun konsep dengan untaian kalimah syahdu nan indah akan pengorbanan dan keikhlasan yang maha dahsyat dari seorang peletak monotheisme: Nabi Ibrahim A.S.
Penceramah ini setiap kali ber-khotbah selalu sukses membuat jama’ah tersedu-sedu, mengalirkan butiran air mata bening dan terkadang ada jamaah yang meraung.
Kisah-kisah kesedihan, pencerahan, optimisme, kemanusiaan, perjalanan suka duka berakhir dengan kesuksesan. Semuanya digelegarkan sang muballiq dengan sangat apik. Ia berhasil memukau dan menghipnotis jamaah, bahkan sang muballiqpun beberapa kali meneteskan air mata dan menyekanya di atas mimbar.
Hanya seorang jamaah saja yang tidak terharu dengan ungkapan-ungkapan indah sang muballiq. Ia adalah putra dari sang penceramah.
Seuasai pelaksanaan acara tersebut,  seseorang menghampiri anak  yang sedari tadi memperhatikannya. Ia pun bertanya: “Nak, saat para jamaah terharu dan terisak-isak. Saya amati Ananda tak sedikitpun terharu. Kenapa?”.
Putra sang penceramah inipun menjawab dengan perlahan: “Ayahku setiap tahunnya memang berlatih untuk mengungkapkan kalimat-kalimatnya seolah apa yang ayahku katakan adalah nyata”.
“Maksud Ananda apa?”.
“Seolah qurban itu nyata baginya. Itu hanya kata-katanya saja. Seolah kata-kata itu mewakili perbuatannya sehari-hari. Celakalah Abu Lahab. Celakalah ayahku yang mengkhotbai banyak orang tapi ayahku tidaklah seindah ucapan-ucapannya. Ayahku takkan mengucapkan semua itu di rumah sebab ibu, kakak dan adikku tahu siapa ayahku. Dia bukanlah Ibrahim yang menyayangi kami sepenuh hati, menemani kami berlama-lama saat kami sakit, meluaskan waktu untuk menuntun kami saat gundah, dan mengusap ubun-ubun kami saat didera masalah. Ibulah yang melakukan semua kerinduan kami akan kasih sayang. Ayahku bukanlah Ibrahim walau kami ingin jadi Ismail.”
———————–
Kiriman sahabat: Armand

sumber : www.resensi.net

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0